Tempat Download Film Bokep Luar Dan Dalam Negeri Terlengkap dan Terupdate

Trending Video

Tampilkan postingan dengan label Cerita ABG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita ABG. Tampilkan semua postingan

Cerita Sex Nafas Mulai Terengah

Cerita Sex Nafas Mulai Terengah
Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Nafas Mulai Terengah.Aku sekarang menjadi mahasiswa terkahir yang mana hanya mengurus skripsi saja tanpa ada mata pelajaran lainnya, aku kuliah di PTS Bandung karena kebanyakan hari kosong aku berniat untuk maen ke  tempat kakakku yang ada di Jakarta, suatu hari saat aku sudah sampai di Jakarta dan sampai dirumahnya ternyata sedang ada tamu yaitu teman kuliahnya dulu.
Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Alex. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Riri, duduk di kelas 2 SMP.

Cerita Dewasa Nafas Mulai Terengah

 cerita sex ABG, cerita ABG terbaru, cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ABG ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata ABG ngentot, koleksi cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru
Cerita Mesum Nafas Mulai Terengah
Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Alex untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya.

Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Alex. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno.

Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

"Hallo, Oom Ryan..!" Riri yang baru masuk tersenyum.

"Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Riri sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya."

Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Riri duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. dia memandang kepadaku dan tertawa geli.

"Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Riri sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat."

Gugup aku menjawab, "Riri.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin."

"Aahh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Riri di sekolah lebih serem."

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Riri justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Riri terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Riri sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Riri. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai "bergerak", sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

"Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!"

"Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?"

mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.

"Yang bener.. Riri pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!"

"Aahh.. Oom Ryan ngeledek..!"

meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang.

Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Riri mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

Nafas Riri makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

"Uuuhh.. mmhh.." Riri menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.

Aahh..! Riri menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Riri yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar.

Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Riri. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

"Ehh.. mmaahh..," tangan Riri meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.

Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.

"Ooohh.. aduuhh..," Riri mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Riri akan terlonjak dan nafas Riri seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Riri tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Riri.

"Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..," ketika Riri membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Riri dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Riri dan aroma kemaluan Riri di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Riri, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Riri menekan pantatku dari belakang.

"Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm.."

Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Riri semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini.

Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Riri masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Riri memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku.

Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Riri terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Riri menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Riri mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.

"Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm.."

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Riri, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Riri sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Riri segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Riri makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Riri melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Riri tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

"Aduh, Oom.. Riri lemes. Tapi enak banget."

Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Riri yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya.

Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Riri.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Riri kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Alex, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Riri pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku.

Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku "blowjob", aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Aku Tak Tahan Lagi

Cerita Sex Aku Tak Tahan Lagi
Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Aku Tak Tahan Lagi. Dengan nada sinis aku memanggil Laras “kenapa lagi kamu ras?? Gini kak karena aku jarang latihan jadi nadanya gak masuk Maafin ya Kak, “dengan tanpa latihan kamu pasti susah untuk mengikuti dan memaninkan seksofon yang bagus”ujarku. Wajah yang penuh kasih Laras hanya diam kepalanya menunduk kebawah, jujur saja aku sebagai guru agak sebal karena muridku susah untuk dibilangi dan tidak bisa mengikuti pelajaran karena jarang berlatih dirumah.


Cerita Dewasa Aku Tak Tahan Lagi

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Aku Tak Tahan Lagi
Ditambah lagi, ketika aku sedang pusing mengerjakan tesis s2ku, dimana mengajar saksofon adalah satu2nya hiburanku, murid yang satu ini membuat hatiku kesal. Laras, 19 tahun, seorang mahasiswi yang kebetulan satu universitas dengan tempatku mengambil kuliah s2, menurutku sangat berbakat bermain saksofon.

Tapi dia jarang sekali latihan. Terdengar dari nadanya yang melenceng, dan tiupannya yang tidak statis, pertanda dia jarang menyentuh alat musik itu. Sebagai mahasiswa S2 yang membiayai kuliahnya sendiri, bermain musik dan mengajar musik adalah tulang punggung utama yang membiayai kuliahku.

Ayahku tidak bisa membiayai lagi kuliahku karena beliau sudah lama meninggal. Uang yang ibuku berikan setiap bulannya hanya cukup untuk membayar kos saja. Uang untuk kuliah, juga disokong oleh beasiswa. Tetapi beasiswanya tidak penuh.

Itulah mengapa aku menggunakan bakatku dalam bermain alat tiup saksofon untuk mencari uang, mengajar maupun bermain di acara2 musik. Dari yang kulihat lewat situs pertemanan facebook, Laras tampak senang sekali bermain dengan teman2nya entah itu nongkrong di kafe, jalan2 ke mall, maupun berkunjung ke Bandung dengan teman2nya.

Itu tidak masalah sebenarnya, tetapi jika dia meninggalkan latihan saksofonnya, itu masalah buatku. Ada orang yang bilang kalo muridnya ngaco, berarti gurunya yang ga bener. Itu membuatku menjadi gemas ketika Laras selalu membuat kesalahan ketika bermain.

“udah ya, hari ini sampai disini saja” aku membereskan saksofonku dan buku musik ku. “tapi kak…” Laras memotong ucapanku “tapi kenapa… pokoknya minggu depan saya tes lagi yang tadi ya, jangan sampe ga bisa kayak sekarang.

” Aku segera bergegas keluar, memakai jaket, mengisi absen guru di meja resepsionis, dan keluar untuk menyalakan mesin motorku. Sudah mau maghrib rupanya. Laras menyusulku keluar.

“Kak… maafin aku ya…. Aku emang lagi banyak kegiatan akhir2 ini, jarang latihan….” Ucapnya. “yaudah… minggu depan perbaikin oke” aku memakai helmku.

“saya pulang dulu ya” aku mengendarai motorku menjauhi tempat les itu. Dari spion aku bisa melihat Laras masuk ke dalam city car nya. Pertemuanku dengan Laras bermula ketika aku mengisi acara yang diadakan oleh BEM kampusnya.

Dia menjadi panitia, LO band yang beranggotakan diantaranya aku sendiri. Berawal dari ngobrol2 Laras rupanya bermain saksofon juga dan dia ingin belajar dariku. Karena aku mengajar di salah satu sekolah musik yang mentereng di Jakarta, kusuruh saja dia daftar, dan dia pada akhirnya mendaftar untuk menjadi muridku.

Sebenarnya Laras menyenangkan, senang melucu dan mudah akrab. Tetapi kekurangannya ya itu, malas berlatih, entah hari2nya dihabiskan oleh apa selain kuliah. Apakah itu main, pacaran, aku tidak terlalu tahu, karena obrolan antara aku dan Laras hanya berkisar musik, lokal maupun musik global.

Aku kembali ke kosanku, kunyalakan laptop hasil tabungan sendiri itu. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang kurang mampu, hanya saja ayahku orangnya disiplin dan tidak memanjakan anaknya.

Waktu aku kuliah s1 di bandung dulu, ketika mampu mencari uang sendiri, aku sudah mulai meringankan beban orang tuaku dengan tidak meminta uang jajan. Ketika sebelum aku lulus s1, ayahku meninggal dan wasiat terakhirnya adalah agar aku terus meneruskan sekolah.

Kujalani pesan ayahku, dan nyatanya, walaupun hanya dari mengajar dan bermain musik, aku bisa menabung, membayar uang kuliah, dan menyicil motor, walaupun uang untuk kos masih dibantu oleh ibuku. Sedangkan Laras, bisa dilihat hidupnya amat mudah.

Orang tua yang kaya, dan memanjakan anaknya, terlihat dari saksofonnya yang terlihat baru dan kinclong, beda dengan saksofon tua ku yang hasil nabung sendiri itu. Naik mobil kemana, jalan2, pacarnya pun aku kenal, walau hanya sebatas tahu sama tahu saja.

Anak orang kaya juga. Kehidupan mereka berbeda jauh denganku. Tampaknya apa2 saja yang mereka inginkan mudah didapat. minggu depan Jam 4 sore. Aku menunggu hujan reda di kosanku. Jam 5 harusnya aku sudah di sekolah musik itu.

Tapi karena aku memakai motor, maka aku hanya bisa menunggu. Waktu terus berlalu. Hujan tidak reda. Maghrib sudah tiba, dan aku sudah menelpon ke sekolah musik itu untuk membatalkan les hari ini. Aku tidur2an di kasurku, malas untuk keluar kemana2 lagi.

Tiba2 handphoneku berbunyi. Aku melihat layar handphoneku. Ternyata nomor Laras. “Halo kak….” Laras mengawali pembicaraan “Eh kamu, ada apa ? udah tau kan lesnya ga jadi ? “ jawabku “Aku ada di depan kosan kakak” lanjutnya “Eh…. Ngapain ? “ aku heran.

Laras memutus telponnya. Aku bergegas keluar dari kamar kosanku, dan kulihat Laras dengan basah kuyup terguyur air hujan, berdiri di depan gerbang kosanku. Tanpa pikir panjang aku mengambil payung, lari dan membuka pintu gerbang.

“Lho kamu kenapa ? kok kehujanan ? mobil kamu mana ? “ tanyaku bertubi2. Laras hanya diam saja. DIa menggigil menahan dingin, sekilas kulihat matanya memerah dan ada bekas tangisan. Untung saja tidak ada orang yang lihat, jadi Laras bisa masuk ke kamarku. Karena kamar mandinya ada di dalam kamar, kusuruh Laras untuk mandi.

Tak lupa kuberikan t shirt ku yang ukurannya agak kecil dan celana pendek, juga handuk yang biasa kupakai. Aku agak khawatir sebenarnya. Karena di kosan ini tidak boleh membawa tamu perempuan ke dalam kamar.

Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau orang2 kosan mengira aku dan Laras melakukan hal2 yang tidak senonoh. Aku hanya diam menatap pintu kamar mandi. Suara air mengalir dari shower bisa kudengar dengan jelas.

Tak berapa lama Laras keluar, dengan memakai baju yang tadi kusiapkan. Dia sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan menggosok2annya dengan handuk. Bisa kulihat matanya masih merah.

“Kenapa sih kamu ?” aku memberanikan diri bertanya “Ceritanya panjang kak….” Katanya sembari duduk disampingku, di pinggir ranjang. “kalo ga mau cerita ga usah dipaksa” aku lalu berdiri dan memakai jaket “Saya beli makan ya, kamu diem disini dulu, jangan ikut keluar, soalnya di kosan ini ga boleh ada tamu cewek masuk ke dalam kamar”

“ dan jangan ribut, nanti dikirain saya nyelundupin kamu ke dalem” kataku mengingatkan Aku tidak habis pikir. Apa yang ada di pikiran Laras sehingga dia nekat datang ke kosan guru musiknya. Aku berjalan dengan payung di tengah hujan, menuju tukang nasi goreng untuk memesan 2 porsi, dibawa pulang. Aku kembali ke kamar kosan.

Hujan telah reda. Aku membuka kunci kamar, dan menemukan Laras sedang menerima telpon dengan air mata yang menetes. Aku segera menutup pintu kamar dan menyiapkan makanan. Laras hanya diam saja, dan dia serta merta menutup telponnya.

“Eh… makan dulu…” aku menegurnya Laras hanya diam. Sejenak kami berdua terdiam beberapa saat.
“Kak… ada tisu ?” Laras akhirnya membuka mulut. Aku segera mengambilkan tisu dari laci meja belajarku. Laras mengusap air matanya dan menarik nafas panjang.

“Maaf ya kak aku ngerepotin” Laras mengambil makanannya dan mulai makan.

 “Gapapa kok, santai aja” “Ntar kalo bajunya dah kering saya anter kamu pulang ya” jawabku.

“Ga usah kak…. Aku mau disini aja” pernyataan Laras membuatku kaget.

“Tapi, saya kan udah bilang, kosan disini ga boleh nerima tamu cewek sebenernya “ Aku sengaja mempertegas kata2ku.

“Aku gak akan ribut kak. Janji” jawabnya Aku hanya menghela nafas sambil ogah2an menyantap nasi gorengku.

Apa sih maunya dia, begitu pikirku. “Kalo mau minum ambil tuh gelasnya di rak di deket pintu kamar mandi” ucapku setelah Laras menyelesaikan makanannya. Laras menurut dan mengambil gelas, dan menuangkan air dari dalam dispenser.

Aku tidak menghabiskan makananku, dan menyalakan laptopku. Jujur saja aku bingung bagaimana harus menghadapi Laras. Aku jarang pacaran, ketika kuliah aku malah tidak sempat pacaran. Sibuk oleh kuliah dan musik.

Apalagi sekarang, kuliah, musik, ngajar. Itulah yang menyebabkanku agak canggung hanya berdua di kamar dengan seorang perempuan. “Kalau mau baca2 majalah itu ada di rak di atas kasur” Aku berkata seperti itu karena Laras terlihat hanya duduk di tepi ranjang dan memandang lantai dengan tatapan kosong Tapi Laras seakan tidak menggubris ucapanku.

Dia masih melamun “Laras. Kenapa sih ?” Aku makin penasaran. Laras tampak kaget mendengar pertanyaanku.

“Hmmm…. Aku heran kak… apa sih yang dimauin sama laki2” dia membuka dialog “Kenapa gitu ?” aku turun dari kursi dan duduk di karpet. Laras pun turun dari pinggir ranjang dan duduk di hadapanku.

“Tadi aku rencananya bolos les kak….” jawab Laras “Terus ?” “Aku jalan2 sama pacarku tadi. Pas jam 5, jam harusnya aku les, aku di dalem mobil pacarku, dia lagi nyetir, rencananya mau jalan cari makan terus nonton” Laras melanjutkan ceritanya.

Entah kenapa handphone dia ditaruh di dashboard. Aku pinjem, mau main game yang ada di hapenya. Dia ngebolehin, tapi entah kenapa aku tiba2 pingin buka inbox smsnya” Halah. Pasti cowoknya selingkuh, begitu pikirku dalam hati.

“Aku ngeliat sms2 mesra kak. Gak cuman satu tapi beberapa cewek” Buset. Pikirku. Jagoan banget tuh cowok.

“Aku kurang apa sama dia coba ? bela2in bolos les, bela2in dia, selalu aku temenin, kok dia begitu sama aku ?” dia mulai menangis lagi.

“Jijik liat sms2 itu, sayang2an segala macem orang pacaran aja” Aku mengambilkan Laras tisu lagi karena airmatanya mengalir deras. “Terus gimana ?” aku memintanya melanjutkan ceritanya. “Aku marah kak.

Tapi dia cuman diem aja ga ngomong apa2. Akhirnya di lampu merah aku keluar dari mobil” “Kan ujan” jawabku sedikit tidak antusias. Entah mengapa kasus ini sangat klasik pada orang2 yang pacaran. Tapi tampaknya Laras sangat terpukul oleh kejadian tersebut.

“Biarin aja kak. Aku jalan, ngejauh dari mobil, aku bisa denger sih dia nglakson terus….. tapi setelah jauh dari mobilnya, aku bingung mau kemana. Tapi aku inget kalo tempat tadi deket sama kosan kakak.

Makanya aku kesini” Memang dulu Laras pernah kesini diantar oleh pacarnya, mengambil partitur lagu.

“Terus ? kok kamu malah kesini ? ga pulang aja ?” tanyaku sambil berusaha meyakinkan dia agar pulang.

“Males nanti ditanyain sama orang tua…. kemana si pacar, kok pulang sendiri. Ribet “ jawabnya “Lah kalo dicariin gimana ?” aku makin bingung “Aku udah bilang sama orang tua aku… mau tidur di rumah temen”

“Tenang aja, mereka percaya kok…..” Aduh. Entah mengapa menurutku Laras berlebihan dalam menghadapi masalah ini. Kenapa gak putusin aja cowok itu, cari taksi, pulang, tidur, besok lupa. Tapi dia malah repot2 pergi ke kosanku.

“Terus kamu mau ngapain disini ?” tanyaku dengan malas “Aku mau nenangin diri dulu kak…..” Eh. Bukannya lebih enak di rumah ? disitu kan bisa nangis bombay di depan orang tua. Dijamin bakal ditenangin, abis nangis besoknya lega deh.

Aku bingung melihat kerapuhannya menghadapi masalah ini. “yaudah lah terserah” kataku “tapi inget, jangan ribut, jangan keluar kamar, besok pagi saya anterin ke rumah” “Iya kak” jawabnya… Jam2 berikutnya diisi dengan obrolan2 yang biasa kami lakukan, soal musik, teknik bermain saksofon.

Tak lupa aku menyetel musik keras2 dari laptop dan menyalakan tv agar suara kami tidak terdengar. Tanpa terasa sudah jam 11 malam “Aku ngantuk kak….” Kata Laras “Hmm…. kamu tidur di atas aja, saya biar tidur di karpet” jawabku sekenanya.

“Enggak kak… aku kan tamu. Aku aja yang tidur di karpet” malah enak di gw. Aku pikir. Aku mengiyakannya dan menggelar selimut cadangan di karpet, untuk alas tidur agar agak empuk, dan memberinya selimut tipis serta bantal yang berlebih di ranjang. Aku mematikan lampu, dan juga naik ke ranjang, bersiap untuk tidur.

“Jangan dimimpiin kejadian yang tadi ya..” kataku mengingatkan “Iya kak….” Sepi. Aku hanya menatap langit2 sambil memikirkan caranya besok pagi keluar tanpa ketahuan yang jaga kos. Kebetulan aja tadi hujan besar sehingga penjaga kos tidak memperhatikan pintu gerbang.

Aku agak kesal dengan sikap Laras. Sudah malas latihan, dan tidak berpikir panjang. Sebenernya muncul rasa kasihan yang besar dalam diriku. Dia belum dewasa, belum bisa mengambil keputusan dengan matang, dan akibatnya seperti ini.

Ada di kos2an guru musiknya, dan tidur di lantai. Yasudahlah. Mungkin Laras butuh teman malam ini, begitu pikirku. Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini, harus kuakui kehadiran Laras malam ini merusak pikiranku.

Bukan jadi buruk, tetapi pikiranku menjadi kotor. Aku pernah melakukan seks, sekali2nya waktu baru kuliah dulu. Pengalaman itulah yang membuatku sedikit membayang2kan bagaimana kalau aku bermain cinta dengan Laras.

Laras memang cantik, kulitnya putih dan mukanya manis. Dan fakta2 itulah yang membuat pikiranku menjadi kotor. Coba kalau dia laki2. pasti aku santai2 saja. Lama aku tidak bisa tidur. Aku sengaja menghadap ke tembok agar tidak melihat Laras.

Tiba2.. Jleg. Aku merasa ranjangku dinaiki orang. Aku kaget, sedikit terkesiap tapi aku berhasil mehanannya. Rupanya Laras menaiki ranjangku. “Kak… aku tidur sama kakak ya……” katanya dengan nada merajuk.

Damn Aku tidak bisa menolak karena dia sudah naik ke atas ranjang. “Ehh… ni kalau mau pake selimut. Aku memberikan bagian selimutku pada Laras. Dia tampak agak malu, dan segera mengambil bagian selimutnya, dan tidur membelakangiku.

Sial. Apa2an ini. Kenapa dia naik ? apa karena kedinginan ? atau keras ? atau kenapa ? Aku merasakan gerakan di sebelahku. “Kak… maaf… aku sebenernya masih pengen ngobrol” “gapapa kan ?” Aku membalik badanku dan mendapati bahwa jarak mukaku dan muka Laras tidak lebih dari 2 jengkal.

Matanya yang memerah menatapku penuh harap. “Kamu ya… Dengerin. Kenapa sih mesti gini ? kamu sekarang ada di kamar cowok, tidur bareng satu kasur. Ga pantes tau. Apa saya tidur di bawah aja ya” Aku berusaha bangkit.

“Ini yang aku suka dari kakak…” tiba2 Laras berkata seperti itu. “Eh……..” Aku heran dan mematung sejenak “Kakak orangnya tegas…”

“gak kayak dia…. egois… udha gitu ga pernah bisa tegas dan ga punya pilihan”

“Manda… tapi” Kata2ku terhenti ketika tangannya menyentuh pipiku lembut. “Aku suka sama kakak” pengakuannya membuatku terhenyak. Apakah benar ? apa Laras Cuma terbawa perasaan akibat baru mengalami kekecewaan dalam berpacaran ? Aku mematung.

Terdiam. Dalam hati aku mengakui bahwa sosok Laras yang manis membuatku tertarik. Tetapi selama ini aku selalu me-ignore perasaan itu karena 1, dia sudah punya pacar, dan 2, aku tidak ada waktu untuk perempuan ditengah kesibukan tesis, musik dan ngajar.

“Kak” tangannya terus mengelus pipiku. Aku pun luluh. Tiba2 kami berdua saling memajukan wajah kami masing2. kami menutup mata dan bibir kami pun bersentuhan. Kami berciuman dengan pelan dan lembut. Laras terus maju ke dalam pelukanku.

Aku meraih pinggangnya, dan menggenggam tangan satunya. Telapak kaki kami saling bersentuhan dan saling bertautan.di dalam selimut itu. kami berciuman dengan hangat. Kami melupakan batas antara guru dan murid.

Walaupun umur kami tidak berbeda jauh, hanya enam tahun, namun rasanya ini seperti affair yang aneh antara guru dan murid. Walaupun guru dan muridnya hanya di sekolah musik saja. Kami berciuman sangat lama.

Entah kenapa kami berdua tidak berciuman dengan nafsu dan tergesa2. Tangan kiriku yang menyentuh pinggang Laras, tiba2 mulai nakal. Tanganku masuk ke dalam t shirt yang dia pakai. Menyentuh kulit halusnya. Laras tidak berontak.

Dia malah terus menciumiku. Laras pun tidak protes ketika tanganku masuk kedalam celana pendeknya dan memegang pantatnya. Damn. Rupanya dia tidak memakai celana dalam dan BH.

Aku melepaskan ciumanku, dan mulai menciumi telinga dan lehernya. “Ahh… Kak… ‘ Laras tampak menikmati perbuatanku. Tanganku terus bermain mencoba membuka celana pendeknya. Laras tidak berontak, kakinya malah beringsut membantuku melepas celana pendek itu.

Pada akhirnya aku melempar celana itu ke lantai. Aku mulai menyentuh pahanya yang sangat mulus. Aku memeluknya erat, menempelkan perutnya di perutku.

“Kak….. “ Laras memanggilku “Kenapa ?” Aku menghentikan ciumanku di leher “Kalau mau itu’… pelan2 ya…. aku belum pernah…” jawabnya pelan dengan nada pasrah dan tatapan penuh harap. Apa. Masih perawan ? aku kaget.

Kupikir setidaknya dia pernah tidur dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak bisa menyikapi kelakuan pacarnya dengan benar, pengalamannya sangatlah minim. Aku terdiam. Mematung. Tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Laras… kalau kamu gak mau, jangan….” aku mundur “Gak apa2 kak. Kalau sama kakak aku mau..” Laras meraih tanganku. “Kamu belum pernah…. jangan dipaksa kalau gak mau….” aku berusaha berpikir jernih.

Laras terdiam, tetapi dia malah masuk ke pelukanku kembali. “Aku mau….” jawabnya pelan “Aku Cuma minta kakak perlakukan aku dengan lembut”

“Tapi” aku masih bertahan “Kak…. aku mau kasih ke kakak malem ini”

“itu karena aku suka sama kakak” “dari pertama ketemu, tapi kakak tampaknya cuek sama aku…. tapi aku makin suka karena tau kakak orangnya tegas, dewasa, “

 “Laras, itu cuman perasaan pelarian aja…” jawabku Laras hanya diam. Tetapi dia menjawab dengan semakin masuk ke dalam pelukanku. Dia memelukku dengan erat, dan tidak mau melepasku. “Aku mau ngelakuinnya cuman sama kakak” Laras tetap gigih.

Kami berpandangan sangat lama. Hingga akhirnya aku menciumnya kembali. Pertahanan akal sehatku runtuh. Tanganku terus melingkari pinggangnya yang ramping itu. Laras perlahan2 bergerak menindih tubuhku. Badannya naik ke atas badanku.

Tangannya mencoba membuka t shirt ku tapi tampaknya dia agak canggung melakukannya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan membantunya membuka atasanku. Setelah itu aku berusaha bangkit dan duduk.

Laras memegang bahuku dan mencoba maju menciumku. Aku menahannya dan memegang kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat2. Laras menatapku malu2. Aku sedikit tegang. Malam ini kedua kalinya aku berhubungan seks.

Dan ini yang pertama bagi Laras. Jantungku berdetak hebat. Aku menggenggam ujung t shirt yang dia pakai. Pelan2 kutarik keatas. Laras menurut dengan mengangkat tangannya. Laras sudah telanjang bulat di pangkuanku.

Kedua tangannya disilangkan, menutupi buah dadanya yang kecil. Dia sedikit menunduk dan tampak sangat malu. Pasti ini pertama kalinya dia telanjang bulat di depan laki2. Aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya.

Tak berapa lama kucium bibirnya lembut. Aku menggenggam kedua tangannya dan mulai menciumi lehernya, terus sampai ke buah dadanya yang kecil Aku menciumi putingnya. Kurasakan badannya agak gemetar, entah karena geli atau agak takut.

Uhh….. Kak… geli…..” Laras mendesah kecil. Aku berbisik kepadanya “Jangan terlalu berisik ya… nanti bisa gawat kalau ketahuan penjaga kos…” Laras mengangguk pelan. Aku melanjutkan menciumi buah dadanya.

Sempat kulihat Laras menggigit bibirnya. Menahan agar dia tidak ribut. “Ngggh…. mmmhhh…” Laras terus mendesah. Aduh, bagaimana nanti ketika kami sampai ke inti permainan ?. Aku menyuruh Laras untuk turun dari pangkuanku.

Aku segera melepaskan celanaku. Laras nampak agak kaget ketika melihat penisku. Ini pertama kalinya juga dia melihat penis lelaki langsung. Laras duduk di sampingku. “Laras, kalau kamu emang ga siap, mendingan gak usah….” Aku menatap wajahnya yang tampak malu bersemu merah, “ Ga apa2 kak…. udah sampe sini….” dia tersenyum kecil walau aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan deg2an.

Aku memegang lembut tangannya dan mencium keningnya. Lalu aku menariknya pelan agar kembali duduk di pangkuanku. Laras duduk membelakangiku. Punggungnya sungguh mulus dan bersih. Aku mulai menciumi bahunya, terus sampai keleher.

Kupeluk erat pinggangnya dan bisa kurasakan tangan Laras memeluk erat leherku. Lama kuciumi bagian belakang leher dan punggungnya. Tak tahan lagi, pelan2 kubimbing Laras untuk berbaring di kasur.

Aku memegang lututnya dan kulebarkan pahanya. Aku menindih badannya. Tangan Laras menahan bahuku. Aku sejenak mematung memandangi Laras. Patutkah kurenggut keperawanan perempuan manis ini ? Haruskah dia melakukannya denganku ? Laras balik menatapku dan berkata “Kak….. pelan2 ya… aku tau pasti sakit pada awalnya”

“Kalau kamu gak mau, bisa kita hentiin sekarang kok….. “ aku menjawabnya. Laras menggeleng pelan. “Aku siap kak………..” Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya yang telah basah. Pelan2 kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya.

Laras mengejang2 geli. Aku memperbaiki posisi dengan menggenggam tangannya. Kurasakan pelan, penisku memasuki bibir vaginanya. Sempit sekali. Aku berkonsentrasi penuh memasuki vaginanya.

“Nggggh…….Ahhh….. “ Laras menahan sakit. Bisa kulihat dia menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca2. “Uhhhh…..” dia menarik napas lega ketika penisku masuk penuh kedalam vaginanya. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan.

Laras tampak menutup matanya, dan meringis seperti menahan sakit. Aku mencabut penisku. Kulihat penisku berlumur darah perawan Laras. “Sakit? Kalau kamu ga tahan sakitnya ga usah dilanjutin…” Aku khawatir “Gapapa kak…..” Laras tersenyum dengan mata agak berkaca2.

Aku menarik nafas panjang, kuputuskan untuk tidak merubah2 posisi bercinta kami, terlalu dini untuk kami berdua. Ditambah lagi pengalaman kami berdua sangat minim. Aku kembali memasukkan penisku ke lubang vaginanya.

Sudah lebih mudah, walau masih sempit. Kurasakan dinding vaginanya yang hangat mengapit penisku erat. “Mmmhhhh….kak.. “ Laras mendesah pelan, dia sudah tidak meringis atau menggigit bibir lagi seperti sekarang.

Aku terus memaju mundurkan penisku dengan pelan namun temponya stabil. “Uhhh…..” Laras tiba2 mencengkram erat bahuku. Seakan ingin mencakarnya. “Mmmmhhh” Kaki Laras mencengkram erat pinggangku.

Aku tahu dia akan orgasme. Terlalu cepat mungkin. Tetapi wajar. Karena ini pengalaman pertama bagi Laras. Dia belum tahu bagaimana mengatur tempo, merubah posisi, ditambah lagi malam ini semuanya aku yang mengendalikan. Laras terus bersuara kecil mengikuti tempo goyanganku.

“Nggg… mmmmhh….” Tiba2 aku menghentikan gerakanku. Aku tak ingin aku bablas keluar di dalam. Kaki Laras kuat mencengkram pinggangku. Malam ini adalah pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tampak tegang atau gugup. Aku tak mau jika ketegangannya mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan.

“ah…. kenapa kak ?” tanyanya polos dengan nafas tidak teratur “Enggak… tadi kamu ngejepit pingganggku terlalu keras… aku takut kalau nanti aku keluar di dalem…” jawabku. “oh…. “Laras “kamu santai ya sayang….” aku mengelus rambutnya lembut dan dia hanya mengangguk pelan.

Pelan2 aku mengisyaratkan agar Laras tidur tengkurap. Dari belakang aku memposisikan kepala penisku tepat di lubang vaginanya. Pelan2 aku masukkan kembali. “hmmhhh… aaahhhh…” Laras kembali mendesah ketika kumasukkan penisku.

Aku memeluk pinggangnya dan membimbingnya naik. Kami bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Laras bertumpu pada kasur. Aku menggerakkan penisku maju mundur sembari memegang erat pinggangnya.

“Uuuuuh…. Ahhh….. “ Laras tidak bisa menahan lagi suaranya. Entah karena kesakitan atau keenakan. Tapi kalaupun kesakitan, dia tidak berontak. Laras terus mengerang. Entah berapa lama kami melakukannya.

“Kak…. aku… ahhh” Aku tau Laras akan segera orgasme. Tapi aku tidak mencebut penisku. Aku malah makin bernafsu menggerakkannya. Tumpuan tangannya semakin lemas. Aku secara refleks malah menarik tangannya kebelakang agar posisi tubuhnya tetap stabil. Aku merasakan tubuhnya menegang dan vaginanya menjepit erat penisku.

“Aaaaah….. aaaahh….. nggghh….” Laras mengerang tanpa mempedulikan keadaan kamar kosku yang mungkin saja suara malam itu bisa bocor ke kamar sebelah. “Ngggghh… aaaaaaaaaah”. Tak berapa lama aku langsung mencabut penisku dan spermaku lalu muncrat berantakan di luar vaginanya.

Laras langsung dengan lunglai menjatuhkan diri ke kasur. Aku pun merebahkan diri di sebelahnya. Kami berpandangan dengan cukup lama dan berpelukan sampai kami tertidur. Kini, kami bukan murid dan guru lagi. Tapi lebih dari sekedar itu.

Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar les, karena kami sekarang menjadi sepasang kekasih. Kejadian malam itu, tidak pernah terulang lagi sampai sekarang. Dan kami tidak pernah mengungkitnya lagi. Biarkan malam itu ada untuk dikenang saja dalam hati kami masing2.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Memeknya Becek

Cerita Sex Memeknya Becek
Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Memeknya Becek. Tanpa mengurangi cerita ini aku ingin berbagi pengalaman probadi saya, perkenalkan namasaya antok, umurku sudah berkepala 3. Rumahku dekat dengan kampus tekemukan di Jogja, cerita yang aku jabarkan dibawah ini nyata cumin namanya aku samarkan takutnya ada yang membaca jadi tersinggung, aku bekerja sebagai karyawan posisiku lumaya tinggi yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan.


Cerita Dewasa Memeknya Becek

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Memeknya Becek
Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing. Cerita ini berawal saat aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yang digandeng ibunya sedang menyeberang jalan.

Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?” “Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”. “Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?” Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Tika cepat sembuh”. Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yang ternyata namanya Tika. Tapi, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Tika dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.


“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Tika jalannya pincang”.

“Ngaak usah den, simbok..”.

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Tika Mbok..”.

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”.

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja.

Terus terang aku kasihan kepada mereka. “Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tapi ndoroo..”. “Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Tika”. Dari informasi yang aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Tika, yang akhirnya aku ketahui namanya Intan.

Simbok ini yang ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Tika umurnya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Tika sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Tika dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yang dipakainya ya tetap yang tadi.

Padahal baju yang dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Simbok memakai daster yang lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Tika dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yang kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga.

Aku memang tipe orang yang nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Tika dan juga kamu Intan makan yang banyak ya.. biar cepet gede..”.

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”.
“Boleh nduuk.., Intan dan Tika boleh makan sepuasnya disini”.

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yang betul-betul mulus dan dibalik CD nya yang lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam.

Pikiranku langsung melayang dan kontolku yang masih perjaka ini langsung berontak. Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya.

Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau CD Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas. Sedangkan yang bikin aku mau muntah adalah bau CDnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci.

Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan kontolku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas CDnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok kontolku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya.

Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun. Sedang asyik-asyiknya aku mengocok kontolku, si Tika bangun dan melihat ke arahku. Tika sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Tika untuk diam.

Setelah Tika diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok kontolku. Tika yang masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yang mengocok kontolku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Tika, gadis kecil yang benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Tika melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yang sedang aku elus-elus berulangkali.

Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini. Saat aku keluarkan pejuhku, si Tika menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya.

Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., tikaku ini tidak memakai CD. Saat aku sedang melihat memeknya Tika, dia bilang.. “Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya.

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”. “Ndoroo.. Tika kedingingan.., Tika mau pipis.. tapi Tika takut ke kamar mandi..”.

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”. Tika kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Tika aku suruh jongkok didepanku. Tika kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yang keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku.

Setelah acara pipisnya selesai, Tika aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yang sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Tika belum cebok.. nanti memeknya Tika bau lho.. Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yang bersihin memeknya Tika.. Tika bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”.

Kemudian Tika aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yang lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya..

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Tika yang lecet..”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”. Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Tika, gadis kecilku ini. Bayangkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yang begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Pembaca.. gimana udah belum ngebayanginya.. udah belum..! udah yaa.. aku terusin ceritanya. Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yang dipakai Tika sampai ke pinggang.

Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yang masih belum ditumbuhi bulu. Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem.

Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yang tadi itu lho dan juga agak mengkilap. Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya.

Ake sendiri heran clitnya tikaku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya. “Aduuh.. Ndoro.. memeknya Tika diapain.. Ndoro..”.

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Tika diam saja yaa..”.

“Inggiih.. Ndoro..”.

Setelah Tika tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Tika.

“Ndoro.. jangaan.. Tika malu ndoroo.. memek Tika kan bau..”. Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan.

Tikapun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya. Aku pun mulai menyedot memeknya Tika dengan kuat dan aku lihat Tika menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Tika diapain sih ndoroo..”. Akupun tidak peduli dengan keadaan Tika yang kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini.

Dan akhirnya.. “Ndoroo.. sudah Ndoro.. Tika mau pii.. piis dulu Ndoro..”. Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..” Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yang mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul tikaku ini. “Ndoro.. maafin Tika ya.. Tika tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Tika bau ya Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. tapi Tika harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Tika mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Tika..”. “Hukumannya, Tika gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”.

“Iya Ndoro..”. Akhirnya aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, Tika yang masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Tika agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan kontolku kedepan wajahnya dan aku suruh Tika untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..! “Inggih Ndoro.. tapi Tika malu Ndoro.. Tika takut Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya kontol Nduk..”.

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut. “Nduk.. kontolnya ndoromu ini diemut ya..”.

“Tapi Ndoro.. Tika takut Ndoro.. Tika jijik Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Tika ngemut es krim.. ayo nanti Tika Ndoro kasih es krim.. mau ya..”.

“Benar Ndoro.. nanti Tika dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”. Tika pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan kontolku ke mulutnya yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang kontolku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”. Sambil Tika mengoral kontolku, kaos lusuhnya Tika pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”. Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan kontolku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Tika dan aku kocok kontolku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!” Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Tika dan hanya sedikit yang menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Tika sampai mau muntah..”.

“He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”.

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Tika sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”. Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika.

 Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis. Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Tika memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku.

Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya. “Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Tika pipis lagi lho Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Tika mau lagi khan es krim..” “Mau Ndoro..”. Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala kontolku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, tikaku meringgis.

“Ndoro.. memek Tika diapain.. kok sakit..” Aku sempat tarik ulur kontolku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung kontolku merobek selaput tipis, yang aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Tika, kuciumi wajah dan bibir mungilnya. “Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Tika tenang saja ya..”. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yang keluar dari mulutnya Tika. “Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”. SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Tika.

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Tika pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”. Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di kontolku, pertanda tikaku sebentar lagi orgasme. Kepala Tika pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis.

Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..” “Ndoroo.. Tika mau pipiiss.. ndoroo..” “Seerr.. suurr.. suurr.., kontolku seperti disiram air hangat..”.

Aku peluk sebentar tikaku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Tika ya Ndoro.. Tika pipis dikasurnya Ndoro..”.

“Tika malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”. “Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan kontolku.

“Ndooro.. Tika capek.. Tika mau bobok.. ndooroo..”. “Iya nduuk.. Tika bobok saja yaa..”. “Memeek Tika periih.. ndooroo..”.

Kutekan keras-keras kontolku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya. Aku cabut kontolku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Tika.., perut Tika jadi hangat Ndoro..”.

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Tika bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”.

“Inggih Ndoro.., sekarang Tika capek.., Tika pengen bobok..”.

Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Tika, si gadis kecilku. Aku dan tikapun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Dewasa Nikmatnya Memek Tante Muda

Cerita Dewasa Nikmatnya Memek Tante Muda
Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante-tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Sedap Memek Tante. Saat itu aku yang baru pulang dari kampus pukul 8 malam karena ada mata kuliah malam, setelahnya aku langsung pulang ke kos kosan, sebelumnya sampai aku mampir ke warung unutk mengisi perutku yang lapar, aku mempir ke tempat langgananku di depa rumah, Ibu Evi nama warung makannya, dia berusia 29 tahun.

 Cerita Dewasa Nikmatnya Memek Tante Muda



Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti.

Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.

“Tante..?” “Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”

“Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?” “Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”

“Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.

“Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”

“Terserah Tante aja dech..”

“Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?

“Mari saya bantu Tante.” Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya.

“Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”

“Ya Tante..” jawabku. Lalu Tante Evi masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu.

Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.

“Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”

“Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur. Setelah sampai di pintu dapur.

“Ada apa Tante?” tanyaku.

“E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?” “Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Evi yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.

“Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.

“Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.

“Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..” Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.

“Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.

“Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya. “Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China. “Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”

“Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.

“Sama-sama Tante..” kataku. “Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.

“Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu. Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Evi yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku.

Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Evi tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Evi mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi,

Mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu.

Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali. Tante Evi tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya.

Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu.

Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya. Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%.

Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Evi meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging.

Beberapa saat kemudian.. “Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Evi dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.

“Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan.

Tante Evi tersenyum manis sekali dan.. “Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?” “Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu.

“Dik Sony.. burungnya bangun ya?”

“Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..”

“Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..”

“Dik Sony pernah ngesex belum?”

“Eee.. belum Tante..” “Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..” “Akhh.. Tante jadi malu, Sony.” Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Evi juga memperhatikan.

“Dik Sony, burungnya masih bangun ya?” Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Evi mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.

“Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.

“Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Evi sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.

“Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Evi dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu.

Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding.

Setelah itu, Tante Evi memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku.

Aku kaget, tiba-tiba Tante Evi menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Evi nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.

“Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!” Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya.

Kulahap dengan rakus vagina Tante Evi, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya.

“Ough Sonn.. ough..” desah Tante Evi sambil meremas-remas susunya.

“Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Tante Evi tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas. “Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?”

“Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya.

“Aoghh..” teriak Tante Evi.

“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget. “Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..”

Aku masukkan kepala penisku di vaginanya. “Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?”

”Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..”

Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Evi sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.

“Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Evi, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Evi. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Evi.

Tiba-tiba Tante Evi terduduk sambil memelukku dan mencakarku. “Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek.

“Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Evi.

“Dik Sony udah mau keluar ya?” Aku menggeleng, kemudian Tante Evi terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan.

Tante Evi semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Evi memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..” Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Evi.

“Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?” “Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Evi. Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku.

Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Evi, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Evi orgasme kembali lalu dia gigit dadaku,

“Oughh..” “Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..” Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Evi masih tetap telanjang, terlentang di lantai.

“Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Evi menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Evi sambil tersenyum genit. Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi.

Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Evi. Dunia ini memang indah.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT,

Cerita Dewasa Pengalaman Pertaa Dengan Om Om

Cerita Dewasa Pengalaman Pertaa Dengan Om Om
Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante-tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Pengalaman dengan Om Hamka. Panggilanku dikeseharian Neneng aku mempunyai sahabat yang bernama Gaby kami sangat akrab begitulah yang dinamakan sahabat, suka dan duka kita lalaui bersama, waktu itu kami berlibur di Bogor tempatnya tanteku dan setelah pulang maen kesana Gaby langsung jalan dengan pacarnya yang umurnya lebih tua dari dia.

 Cerita Dewasa Pengalaman Pertaa Dengan Om Om



Pada suatu saat sewaktu istirahat saya berdua Gaby makan bakso, setelah selesai kami ber bincang-bincang, Gaby menceritakan sewaktu pergi ke Bandung bersama kekasihnya yang om- om itu.

Semua diceritakan kepadaku, baru sekali itulah katanya Gaby merasakan kenikmatan yang seakan-akan Gaby pergi ke surga, berapa kali Gaby melakukan dengan kekasihnya diceritakan semuanya kepadaku.

Mendengar cerita Gaby aku betul2 tertarik bahkan terangsang akan pengalaman pertama Gaby, yang katanya terasa sampai ke ubun2, aku diam2 punya rasa keinginan untuk kenal lebih dekat dengan yang dimaksud kekasih Gaby itu.

saya betul betul terpengaruh oleh cerita Gaby , pakah betul sampai keubun ubun nikmatnya???????

Walau umurku baru 15 tahun sama dengan umur Gaby dan badanku yang mungil dibalut dengan kulit putih seperti Gaby dan tetekku yang baru nyembul tumbuh, aku sudah sangat ingin mencoba seperti apa yang pernah dialami Gaby hingga….

Pada suatu saat hari sabtu sore aku pergi ke Mall disuruh ibuku beli minyak goreng dan mie….., kebetulan aku ketemu dengan kekasih Gaby yang sedang belanja juga, aku masih ingat betul walau kami baru ketemu sepintas.

Aku menyapa dengan sopan, “Sore Oom, belanja Oom” sapaku sopan, dijawab dengan lembut

” iya, siapa ya?” jawabnya,

“saya temen Gaby Oom, lupa ya, yang diantar ke Bogor, kerumah tante” jawabku,

“Ooh, ya Oom ingat sekarang, sedang belanja juga?”

“ya, Oom, disuruh ibu” jawabku, dan kami sambil jalan ngobrol biasa-biasa saja, aku pikir bagaimana caranya agar aku bisa sama2 bapak ini, lalu aku bilang

“Oom, tinggal dimana?” lalu dijawabnya disuatu komplek didaerahku.

Lalu aku pancing ” Boleh Oom, Neneng main kerumah Oom ” tanyaku,

” Boleh2, kapan mau kerumah Oom, silakan” jawabnya, perasaanku betul2 gembira nah, berhasil aku mendekatinya, lalu aku bilang ” Besok boleh Oom ???”

” Boleh, jam berapa, dirumah Oom sepi lho, tante sedang ke Bandung, jadi Oom tidak ada apa2, tapi nanti Oom beli kue saja buat besok”, dan kamipun berpisah sebab aku keburu-buru ditunggu ibuku.

Besoknya hari Minggu pagi2 kira2 jam 09.00 aku berangkat kerumah kekasih Gaby, tak berapa lama akupun sampai dikomplek yang disebutkan, lalu aku tanya satpam komplex dimana alamat yang dimaksud………ahirnya ketemu juga….

Akupun masuk kehalaman rumahnya dan aku pencet bell, tidak lama keluar kekasih Gaby…. dan dengan sapa yang halus menyapaku ” selamat pagi, Neneng, sendirian ya ” sapanya,

” ya oom “, lalu aku dipersilahkan duduk dan Bapak pergi ke belakang.

Tak berapa lama om Idola keluar membawa minuman hangat dan kue yang kemarin dibelinya di Mall, ” silahkan diminum dan dicicip kuenya ” aku menganggukkan kepala saja sebab perasaanku sudah betul2 ngebet ingin merasakan apa yang diceritakan Gaby.

Kami duduk bincang2 layaknya bapak dengan anak, lalu aku geser dudukku, ” Boleh Neneng duduk dekat Oom ” pintaku,

” Boleh silahkan “, waduh sseerrr rasanya, aku duduk disebelah kirinya dan aku baca majalah Tempo yang ada dimeja.

Tapi kemudian tidak lama kemudian aku ditawarin majalah yang ….yaaa…ampun gambarnya berisikan gambar yang menampilkan hubungan suami…isteri……sekilas kulihat nama majalah itu tertulis didepannya playboy.

Aku benar benar terangsang………….badanku gemetar….menahan perasaaan yang baru kali ini aku rasakan……….rupanya OM Hamka begitu namanya kuketahui setelah kutanyakan pada beliau…..telah mengetahui keadaanku…….ia merapatkan tubuhnya kesampingku sambil melingkarkan tangannya kepundakku…….tak lama kemudian jaritangannya merabah kupingku……aku kian bergetar………….om Hamka kian menggeserkan duduknya, lantas ia merebahkan kepalaku dipangkuannya………..

Sambil tiduran aku tetap membolak balik majalah playboy itu…….mataku telah nanar dikuasai birahi remajaku……..aku menggeserkan kepalaku dipangkuandipangkuannya karena terasa ada benda keras yang mengganjal belakang leherku….., kalau aku miringkan persis hidungku kena selangkangannya yang menonjol itu……..om Hamka diam sambil baca koran.

Lama2 aku beranikan diriku, pura2 aku tertidur lalu kumiringkan badanku tepat aku menindih……tonjolan itu………dan dengan menggeser kepalaku sedikit kebelakang maka nampakklah benda yang menonjol dibalik celana pendek om Hamka………….tanganku kuletakkan diatas tonjolan itu dan kudengar om Hamka menhela nafas panjang…..ia tergelinjang …..ketika tonjolan itu ku gesek gesek dengan lenganku……gilakah aku ????pikirku……

Lalu….. dengan tenang dielusnya tanganku dan makin dibimbingnya menuju tonjolan tadi seakan menyuruhku untuk meremasnya…………. rupanya tonjolan tadi namanya adalah Kontol………..

Tangan Oom menggosok-gosok lengan atasku aku sudah betul2 napsu, aku makin kuat pegang kontol Oom, tiba2 aku diangkat dipopongnya dibawa masuk ke kamarnya, sampai dikamar dibukanya bajuku dan minisetku, lalu rokku dilepasnya tinggal CD saja.

Aku ditidurkan ditempat tidur yang empuk, kemudian aku diciuminya dengan lembut, aduuhh maakk aku semakin terangsang, digosoknya toketku dengan tangannya yang besar dan pentilku yang baru segede kedele diisapnya, adduuuhhhhkk bener kata Gaby enaknya.

Pelan2 ditariknya CD ku lalu digosoknya memekku dengan jarinya pas kena itilku yang baru sebesar biji kedele, terasa basah memekku keluar cairan, aku meraba mencari kontol Oom, yang masih pakai celana pendek, …

wwuuuuiii besarnya bukan main.

Aku berpikir apa bisa masuk ke memekku kontol sebesar itu, ada rasa ngeri juga tapi aku abaikan aku sudah betul2 ngebet, eeehhhh diisapnya memekku dan dijilatinya, aduhhhh ennnuuuaaaakkkkk Ooooommmmm, terussssss pintaku, sambil dijilati memekku tangan Oom pegang toketku.

Aku sampai menggelinjang pantatku terangkat saking enaknya, Oooommmmm teeeerrruuuussss Oooooommmm, kembali aku diciuminya leherku toketku dicium, lalu diisapnya, ketekku dicium pangkal toketku dicium lalu diisapnya, kembali pentilku diisapnya adduuuhhh rasanya sampai ke ubun-ubun.

Aku diangkat lagi lalu dipangkunya sambil diisap toketku aduh aku betul2 ke surga Gaby betul katamu, aku merasakan sekarang, eeehhhh kontolnya di gosok2kan dimemekku aduuhh mmaaakkk, eeeuuunnaaakk Oommmmm rintihku, ujung jarinya dimasukkan ke lubang memekku aduh sakit Oomm, aku dicium lagi.

“Neneng engkau pingin merasakan lebih enak, ya” tanyanya ” Iiiyyyaaaa OOoooommmm ” jawabku, ” Neneng sedikit sakit ya nanti lama-lama hilang sakitnya ” kata Oom ” terserah Oom , Neneng ingin merasakan kenikmatan Oom ” kataku, pelan2 dimasukkan ujung kontolnya, aku merintih kesakitan.

” Pelan Oom, sakiitt ” rintihku, digosoknya lagi dan didorongnya lagi, hal itu dilakukan berkali-kali dan sakitnya waktu kontolnya didorong, tapi hilang rasa sakitnya kalau kontol Oom di gosok2kan di bibir memekku yang tipis dan tahu2 ssrrreeetttt, szssrreeeettt, “sakit Oom ‘ teriakku, masuklah kontolnya ke memekku walau hanya sedikit.

Aku diciumnya lagi digigitnya toketku, diisapnya pentilku, sambil badanku digosok-gosok paka tangannya, aduuuhhhh Oom saaakkiiittt rintihku, lalu diciumnya lagi, eh lama2 hilang rasa sakitnya, aku mulai sedikit merasakan enaknya, diangkatnya badanku lalu diturunkannya lagi, sampai berkali-kali.

Aduh rasanya semakin enak, tahu2 aku merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan, sampai aku gigit dada Oom, aaaddduuuuuhhhh, aaaaauuuuggghhhhh oooooommmm, aaaauuuggghhhh, oooommmmm, lalu aku lemas tapi masi dipangkuannya dan kontol Oom masih didalam memekku

Aku menyaksikan percikan darah perawan ku membasahi kain sprei tempat tidur om Hamka…..dan sebagian belepotan dipangkal kontol om dan juga ada nempel di pahanya…………ohhhh aku gak perawan lagi………tapi peduli amat…….nikmatnya mengalahkan semua pikiranku tentang arti sebuah keperawanan……….

Mulai lagi pentilku diisapnya dan diciumminya lagi, mulai aku terangsang lagi, aku coba menggeser dudukku dipangkuan oom tapi kontol Oom seakan-akan lengket dengan memekku, lalu aku digendongnya masih dalam posisi kontol dimemekku dan aku ditidurkan ditempat tidur Oom, aduhh Oommm teeerrrruuusssss Ooommm.

Pantat Oom dinaik turunkan aku menggelinjang, kepalaku goyang kiri goyang kanan saking enaknya dan Aaaauuuuuggghhhh aaaaacccchhhh uuuuugggghhh Oooooommmm eeennnaaaakkk pekikku, gila betul2 enak rasanya aku sudah entah berapa kali orgasme alias keluar, lalu pelan2 oom naikturunkan pantatnya.
Eeehh tahu2 Oom menggerakkan lagi pantatnya dan aaaadduuuhhh Ooooooommmmmm pekikku Neneng kepengen pipisssss ommmmm……pipis aja kata om Hamka……. Ooooooommmmm dan cccrreetttt, creeeettttt terasa panas ……ada yang mengalir dari dalam…..

Tapi bukan pipisss….badanku bergetar…..kuat sekali ….tanganku mencengkram bahu om Hamkass…ahhhhh….dunia ini putih semua…..enak yang tak dapat lagi diucapkan dengan katakata……………. rupanya Oom juga pipisss…. dan disemprotkan didalam memekku , aduh enaknya sampai mataku berat susah dibuka rasanya.

Aku terbangun ternyata aku tertidur diatas Oom, dan kontol Oom masih didalam memekku, pentilkuku digigit dan dicium lagi sampai mataku terasa terbalik saking enaknya dan tahu2 sret kontol Oom dicabut dari memekku lalu aku ditelentangkan kakiku dikangkangkan dan aduh rasanya rambutku terasa mau copot memekku dijilati lagi.

Lama memekku dijilati dan itilku digigit-gigit aku kali ini betul2 terangsang berat, aku tarik kontol Oom aku bimbing kelubang memekku dan cret, cret oom tekan langsung masuk kontolnya lalu diturun naikkan, aku betul2 me layang2 disurga rasanya dan aku tarik dada oom kugigit aku pipisssss lagi….

oooohhhhh ommmmmmm enakkkkkk ommmmmmmmmm.

Oom masih terus memainkan kontolnya yang masuk dimemekku, kali ini aku gantungkan diriku dibadan oom dan ccrreeettt, ccrrreeetttt uuugggghhhh, aaaaccchhhh aaaadddduuuuuhhhhh ooooooommmmmm, didalam memekku terasa hangat lagi kena semprot air pipis putih…..dari oom.

Entah sampai jam berapa hari itu, kami sampai lupa makan siang tahu2 sudah jam 17.00 sore, aku tidur didekap Oom, kira2 jam 19.00 aku dibagunkan disuruh mandi lalu makan dan diantarkan pulang, sampai dirumah jam 20.00 aku bilang dari rumah Gaby belajar, makasih Oom
Nah sekian dulu pengalaman pertamaku dengan om Hamka……..kekasih sahabatku.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT,

Cerita Seks Toket Gede ABG Kimcil

Cerita Seks Toket Gede ABG Kimcil
Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante-tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Toket Gadis ABG. Siang hari karena tubuhku seakan akan agak lemas dan kurang gairah aku bergegas pergi ke salon untuk merefleksikan tubuhku ini, setelah sampainya di tempat aku masuk ke pintunya.

 Cerita Seks Toket Gede ABG Kimcil



“Mau diapain Pak” tanya resepsionis yang cantik.

Kulihat namanya yang terpampang di dada. Anggi, namanya.

“Creambath sama refleksi” jawabku.

“Mari dicuci dulu Pak” Anggi menyilahkanku ke tempat cuci.

Cerita sex | Cerita Dewasa | Cerita Panas – Nikmatnya Menghisep TOGE SalonTak lama pegawai salon yang akan merawat rambutkupun datang. Kuperhatikan dia tampak masih ABG. Dengan tubuh yang kecil dan kulit sawo matang tapi bersih, wajahnya pun tampak manis dan imut.

Walaupun tak secantik Lia, tapi wajahnya yang menyiratkan kemudaan dan keluguan itu menarik hatiku. Tapi yang paling menyedot perhatianku adalah buah dadanya yang besar untuk ukuran tubuhnya. Dengan tubuh yang mungil, buah dadanya tampak menonjol sekali dibalik seragamnya yang berwarna hitam itu.

Perawatanpun dimulai. Pijatan Dian, nama gadis itu, mulai memberikan kenikmatan di tubuhku yang lelah. Tetapi tak kuduga setelah aku menyetubuhi Lia tadi, gairahku kembali timbul melihat Dian. Terutama karena buah dadanya yang tampak masih padat dan kenyal itu.

Benar-benar sexy sekali dilihatnya, ditambah dengan celana jeansnya yang sedikit di bawah pinggang sesuai mode masa kini, sehingga terkadang perutnya tampak ketika dia memijat bagian atas kepalaku.

Setelah creambath, Dianpun yang memberikan layanan refleksi. Karena tempat dudukku lebih tinggi darinya, kadang ketika dia agak menunduk, aku dapat melihat belahan dadanya dari balik T-shirtnya yang kancingnya sengaja dibuka.

Begitu indah pemandangan itu. Semenjak aku menikmati Tari, gadis SMP dulu, belum pernah aku menikmati ABG belasan tahun lagi. Terlebih dulu Tari berdada kecil, sementara aku ingin mencoba ABG berdada besar seperti Dian ini.

Akupun mengajaknya mengobrol. Ternyata dia baru lulus SMA dan berusia 18 tahun lebih sedikit. Mau melanjutkan sekolah tidak ada biaya, dan belum mendapatkan kerja yang sesuai. Dia bekerja di salon tersebut sambil mencari-cari kerja yang lain yang lebih baik.

Singkat kata, aku tawarkan dia untuk melamar di perusahaanku. Tampak dia berseri-seri mendengarnya. Aku sarankan sehabis jam kerjanya kita dapat mengobrol lebih jauh lagi mengenai pekerjaan itu. Diapun setuju untuk menemuiku di food court selepas pulang kerja nanti.

Nikmatnya Menghisep TOGE SalonJam 8.00 malam, Dian menemuiku yang menunggunya di tempat yang telah disepakati itu. Kupesan makan malam sambil kita berbincang-bincang mengenai prospeknya untuk bekerja di perusahaanku.

Kuminta dia mengirimkan surat lamaran serta ijazahnya secepatnya untuk diproses. Kubilang ada lowongan sebagai resepsionis di kantorku. Memang cuma ada Noni resepsionis di kantorku, sehingga aku merasa perlu untuk menambah satu lagi. Setidaknya itulah pikiranku yang sudah diseliputi hawa nafsu melihat kemolekan tubuh muda Dian.

Sambil berbincang, mataku terus mengagumi buah dadanya yang tampak sekal menggiurkan itu. Ingin rasanya cepat-cepat kujilat dan kuhisap sepuas hati. Dian tampak menyadari aku menatap dadanya, dan dia tampak tersipu malu sambil berusaha menutup celah T-shirtnya.

Sehabis makan malam, aku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sambil meneruskan wawancara, alasanku. Dianpun tidak menolak mengingat dia sudah ingin sekali pindah tempat kerja. Terlebih penampilanku membuatnya semakin yakin.

Di dalam mobil, dalam perjalanan, kuteruskan perbincanganku mengenai job description seorang resepsionis di kantorku. Sambil berbincang kucoba meraba pahanya yang terbungkus jeans ketat. Sesekali tangannya menolak rabaan tanganku.

“Jangan Pak.. malu” alasannya.

Sementara itu, nafsuku sudah begitu menggelora dan motel jam-jaman langganankupun sudah hampir tampak.

“Dian.. Terus terang saja.. Kamu memenuhi semua persyaratan.. Hanya saja kamu harus bisa melayani aku luar dalam untuk bekerja di perusahaanku.” tegasku sambil kembali mengerayangi pahanya. Kali ini tidak ada penolakkan darinya.

“Tapi Pak.. Dian nggak biasa..”

“Yach kamu mulai sekarang harus membiasakan diri ya..” kataku sambil meremas pahanya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku membelokkan setir Mercyku ke pintu masuk motel langgananku itu.

Mobilku langsung masuk ke dalam garasi yang telah dibuka oleh petugas, dan pintu garasi langsung ditutup begitu mobilku telah berada di dalam.

Kuajak Dian turun dan kamipun masuk ke dalam kamar. Kamar motel tersebut lumayan bagus dengan kaca yang menutupi dindingnya. Tak lama, petugas motel datang dan akupun membayar rate untuk 6 jam.

Setelah si petugas pergi, kuajak Dian untuk duduk di ranjang. Dengan ragu-ragu dia patuhi perintahku sambil dengan gugup tangannya meremas-remas sapu tangannya. Kusibakkan rambutnya yang ikal sebahu dengan penuh kasih sayang, dan mulai kuciumi wajah calon resepsionisku ini.

Kemudian kuciumi bibirnya yang agak sedikit tebal dan sensual itu. Tampak dia hanya bereaksi sedikit sambil menutup matanya. Hanya nafasnya yang mulai memberat..

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan langsung tanganku dengan gemas merabai dan meremasi buah dadanya yang ranum itu. Aku sangat gemas sekali melihat seorang ABG bisa mempunyai buah dada seseksi ini.

Kuangkat T-shirtnya, dan langsung kujilati buah dadanya yang masih tertutup BH ini. Kuciumi belahan dadanya yang membusung. Ahh.. Seksi sekali anak ini. Dia masih tetap menutup matanya sambil terus meremas-remas sapu tangan dan seprei ranjang ketika aku mulai menikmati buah dadanya. Kubuka pengait BHnya yang tampak kekecilan untuk ukuran buah dadanya, dan langsung kuhisap dan kujilati buah dada gadis salon ini.

“Eh.. Eh..” hanya erangan tertahan yang keluar dari mulutnya. Dian tampak menggigit bibirnya sendiri sambil mengerang ketika lidahku menari di atas putingnya yang berwarna coklat. Dengan cepat puting itu mengeras pertanda siempunya sedang terangsang hebat.

Nikmatnya Menghisep TOGE SalonSegara kulucuti semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat. Kemaluanku telah tegak ingin merasakan nikmatnya tubuh gadis muda ini. Akupun duduk di atas dadanya dan kuarahkan kemaluanku ke mulutnya.

“Jangan Pak.. Dian belum pernah..” katanya sambil menutup bibirnya rapat.

“Ya kamu harus mulai belajar donk..” jawabku sambil menyentuhkan kemaluanku, yang panjangnya hampir sama dengan panjang wajahnya itu, ke seluruh permukaan wajahnya.

“Katanya mau jadi pegawai kantoran..” aku mengigatkan.

“Tapi nggak akan muat Pak.. Besar sekali”

“Ya kamu coba aja sedikit demi sedikit. Dimulai dari ujungnya dulu ya sayang..” perintahku lagi.

Dianpun mulai membuka mulutnya. Kusodorkan kemaluanku dan sedikit demi sedikit rasa hangat yang nikmat menjalari kemaluanku itu, ketika Dian mulai menghisapnya. Kuangkat kepalanya sedikit sehingga dia lebih leluasa menghisapi kemaluan calon bosnya ini.

“Ya.. Begitu.. Sekarang coba lebih dalam lagi” kataku sambil mendorong kemaluanku lebih jauh ke dalam mulutnya.

Kemudian kutarik keluar kemaluanku dan kuarahkan mulut gadis ABG ini ke buah zakarku.

“Sekarang kamu jilat dan hisap ini ya.. Sayang”

Dianpun menurut. Dijilatinya dan kemudian dihisapnya buah zakarku satu per satu. Demikian selama beberapa menit aku duduk di atas dada Dian dan mengajarinya memberikan kenikmatan dengan menggunakan mulutnya. Mulutnya tampak penuh sesak ketika ia menghisapi kemaluanku.

Nikmatnya Menghisep TOGE SalonSetelah puas menikmati hangatnya mulut Dian, aku kembali gemas melihat buah dadanya yang membusung itu. Kembali kunikmati buah dadanya dengan mulutku.

Kembali Dian mengerang tertahan sambil mengatupkan bibirnya. Sementara itu, akupun melucuti celana jeansnya dan sekalian celana dalamnya. Tampak vaginanya yang bersih tak berbulu seperti menantang untuk digenjot kemaluanku.

Tanganku meraba-raba vaginanya dan tak lama menemukan klitorisnya. Kuusap-usap klitorisnya itu, sementara mulutku kembali dengan gemas menikmati buah dadanya yang besar menantang. Terdengar dengusan nafas Dian semakin dalam dan cepat.

Matanya masih menutup demikian juga dengan bibirnya. Tangannya tampak semakin keras meremas sprei ranjang kamar. Aku sudah ingin menyetubuhi gadis petugas creambath ini. Kurenggangkan pahanya sementara kuarahkan kemaluanku ke liang nikmatnya.

“Pelan-pelan ya Pak..” pintanya sambil membuka mata.

Tak kujawab, tapi mulai kudorong kemaluanku menerobos liang vaginanya. Memang dia sudah tidak perawan lagi, tetapi vaginanya masih sempit menjepit kemaluanku.

“Ahh..” jeritnya ketika kemaluanku telah menerobos vaginanya. Tak kuasa lagi dia untuk menahan jeritan nikmatnya.

Mulai kugenjot vaginanya, sambil kuremas-remas buah dadanya. Makin keras erangan Dian memenuhi ruangan itu.

“Ahh.. Ahh..” erangnya seirama dengan goyanganku.

Buah dadanya bergoyang menggiurkan ketika aku memompa vaginanya. Sesekali kuhentikan goyanganku untuk kembali menghisapi buah dadanya yang besar dengan gemas. Hampir 20 menit terus kupompa gadis manis pegawai salon ini.

Tiba-tiba dia mengerang dan mengejang hebat tanda orgasme. Tampak butir keringat mengalir membasahi wajahnya yang manis. Kuseka keringatnya dengan penuh kasih sayang.

Kemudian kunaiki kembali tubuhnya dan kali ini kuletakkan kemaluanku diantara buah dadanya yang kenyal itu. Tanganku merapatkan buah dadanya, sehingga kemaluanku terjepit diantaranya. Nikmat sekali rasanya dijepit buah dada gadis ABG semanis dia.

Mulai kugoyangkan badanku maju mundur sehingga buah dadanya yang kenyal menggesek-gesek kemaluanku dengan nikmat. Kadang kulepaskan kemaluanku dari himpitan buah dadanya untuk kemudian kusorongkan ke mulutnya untuk dihisap. Kemudian kembali kujepitkan diantara buah dadanya yang ranum itu.

Kira-kira 15 menit lamanya kemaluanku menikmati kenyalnya buah dada dan hangatnya mulut Dian. Akupun merasa akan orgasme, dan tak lama kusemburkan cairan ejakulasiku di atas buah dada Dian. Dengan kemaluanku, kuoleskan spermaku keseluruh permukaan buah dadanya yang sangat membuatku gemas itu.

“Pak.. Jangan bohong lho janji Bapak..” ujar Dian saat kami telah meluncur kembali di dalam mobilku.

“Oh nggak, sayang.. Cepat saja kamu kirim lamarannya ya” jawabku.

Dianpun tersenyum senang mendengarnya. Terbayang olehnya kerja di kantor yang merupakan cita-citanya. Akupun tersenyum senang membayangkan buah dada Dian yang akan dapat aku nikmati sepuasnya nanti. Kuturunkan Dian dipinggir jalan sambil kuberi uang untuk ongkos taksi.

“Terimakasih ya Pak Robert” katanya ketika dia turun dari mobilku.

“Sama-sama Dian” jawabku sambil melambaikan tangan.

Nikmatnya Menghisep TOGE SalonKukebut mobilku menuju jalan tol. Hari telah larut malam. Jalanan telah menjadi lenggang. Ingin rasanya cepat sampai di apartemanku setelah hari yang melelahkan ini.

Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum mentest secara seksama kemampuan Dian untuk menjadi resepsionis. Interpersonal skill, bahasa Inggris, telephone manner, dan lain-lain. Rupanya aku hanya terbuai oleh buah dadanya yang nikmat itu.

Biarlah nanti bagian HRD yang mentestnya, pikirku. Kalau lulus ya diterima, kalau nggak ya nggak apa-apa. Toh aku sudah puas menikmati buah dadanya he.. He..

Kubuka jendela untuk membayar tol. Setelah membayar, langsung aku tancap gas melintasi kota Jakarta di waktu malam. Lagu “Breakin’ Away”nya Al Jarreau mengisi sepinya suasana dalam mobilku.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT,

Cerita Seks Desahan Kenikmatan Risma

Cerita Seks Desahan Kenikmatan Risma
Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante-tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Risma Mendesah Kenikmatan. Gadis yang masih duduk di kelas 3 SMU ini bernama Risma masih berumur 17 tahun memounyai tubuh yang seksi dan sekal, kulitnya putih mulus rambutnya panjang terurai sebahu, wajah yang cantik, dia anak orang punya dan punya naman di kotanya, dia bisanya dirumah sendiri karena kedua orangntuanya tugas di ibukota, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.

 Cerita Seks Desahan Kenikmatan Risma



Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Risma sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Teguh, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Risma.

Teguh, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.

Sosok pribadi Risma memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Teguh yang sering mengantarkan Risma dari jalan besar menuju ke kediaman Risma yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Risma pulang dari sekolah. Seperti biasa Teguh mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK.

Dan Teguh memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Risma. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Risma nanti akan dikerjai. Teguh sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Risma.

“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Teguh sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan sedikit kesal Risma pun terpaksa mengikuti kemauan Teguh yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Teguh, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Teguh membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Risma.

“Hujan..”, jawab Teguh sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Risma menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Teguh sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Risma yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Rismapun kaget mendengar ucapan Teguh tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Risma sambil terbengong-bengong.

“Non cantik, kamu mau ini?” Teguh tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.

Risma terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Risma dengan wajah yang memucat.

Sejenak Teguh menatap tubuh Risma yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Risma yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu.

Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”,

Risma mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Teguh yang semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Risma mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Teguh yang mulai menjamah paha Risma, tapi percuma saja karena kedua tangan Teguh dengan kuatnya memegang kedua paha Risma.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”,

Risma meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Teguh malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Risma itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Risma.

Risma pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Teguh mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Risma.

Tubuh Risma menggeliat ketika tangan-tangan Teguh mulai menggerayangi bagian pangkal paha Risma, dan wajah Risma menyeringai ketika jari-jemari Teguh mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”,

pekikan Risma kembali menggema di ruangan itu di saat jari Teguh ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.

Tubuh Risma menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Teguh semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Risma yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Teguh yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Risma.

Saat ini lubang kemaluan Risma telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Teguh.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Teguh mencabut jarinya dari lubang kemaluan Risma. Risma nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya.

Teguh kemudian menarik tubuh Risma turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Risma hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Teguh juga menikmati wanginya tubuh Risma sambil terus meremas remas pantat gadis itu.

Selanjutnya Teguh mulai menikmati bibir Risma yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Risma mendesah-desah di saat Teguh melumat bibirnya.

Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Risma oleh gigi dan bibir Teguh yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Teguh pun bergeser ke bagian leher gadis itu.

“Oohh.. Eenngghh..”, Risma mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Teguh.

Cengkeraman Teguh di tubuh Risma cukup kuat sehingga membuat Risma sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Risma pasrah di hadapan Teguh yang tengah memperkosanya.

Setelah puas, kini kedua tangan kekar Teguh meraih kepala Risma dan menekan tubuh Risma ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Teguh yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Teguh kepala Risma dihadapkan pada penisnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Teguh sambil menjambak rambut Risma.

Takut pada bentakan Teguh, Risma tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Teguh mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Risma.

“Hmmphh..”, Risma mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Risma menggelembung karena batang kemaluan Teguh yang menyumpalnya.

“Akhh..” sebaliknya Teguh mengerang nikmat.

Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Risma di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Risma.

Risma menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Teguh. Sementara kedua tangan Teguh yang masih mencengkeram erat kepala Risma mulai menggerakkan kepala Risma maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Risma. Suara berdecak-decak dari liur Risma terdengar jelas diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Teguh melakukan hal itu kepada Risma, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Teguh mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Risma semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Risma. Wajah Teguh menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Teguh melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Teguh yang mengisi mulut Risma yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Risma berusaha melepaskan batang penis Teguh dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Teguh mencengkeram kuat kepala Risma. Sebagian besar sperma Teguh berhasil masuk memenuhi rongga mulut Risma dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Risma.

“Ahh”, sambil mendesah lega, Teguh mencabut batang kemaluannya dari mulut Risma.

Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Risma. Demikian pula halnya dengan mulut Risma yang nampak basah oleh cairan yang sama. Risma meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan Teguh seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” Risma menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Teguh yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Risma.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Teguh membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.

Teguh kemudian memegang tubuh Risma yang masih menangis terisak-isak. Risma sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Risma bergetar ketika Teguh menidurkan tubuh Risma di lantai gudang yang kotor itu, Risma yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Teguh.

Setelah Risma terbaring, Teguh menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Risma hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Teguh memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Risma. Kedua mata Teguh pun melotot tajam ke arah kemaluan Risma. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.

Teguh langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Risma. Risma menjerit ketika Teguh mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Risma.

“Aakkhh..”, Risma menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.

Kedua tangan Risma ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Risma dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Risma melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Teguh. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Risma. “Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Teguh mendesis nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Teguh langsung menggenjot tubuh Risma dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Risma mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Teguh yang keras dan kasar. Sementara Teguh yang tidak peduli terus menggenjot Risma dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Risma yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.

Sekitar lima menit lamanya Teguh menggagahi Risma yang semakin kepayahan itu, sepertinya Teguh sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Risma, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Teguh kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Teguh pun berejakulasi.

“Aahh..” Teguh memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Risma yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Teguh.

Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Teguh. Teguh puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Teguh dengan becaknya kembali mengantarkan Risma yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Risma tak mampu lagi berjalan normal hingga Teguh terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Teguh dengan leluasa menuntun tubuh lemah Risma hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Risma bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Teguh pun kemudian meninggalkan Risma dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Risma yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT
Copyright © Zona Bokep. All rights reserved. Template by CB